Apoteker Kembangkan Apotek Rakyat

05 Jul 2007 sumber : depkes.go.id

Sudah saatnya para apoteker menjadi tuan di apoteknya sendiri. Caranya, para apoteker mendirikan dan mengembangkan sendiri apotek rakyat. Mendirikan apotek rakyat itu tidak perlu modal besar dan lahan luas. Berbeda dengan zaman dulu, kalau mendirikan apotek harus mempunyai modal besar. Menkes Dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP (K) menyampaikan hal itu ketika membuka Kongres Ilmiah XV Ikatan Sarjana Farmasi (ISFI) dan Peringatan Hari Jadi ISFI ke-52 di Jakarta tanggal 18 Juni 2007.

Menurut Menkes, Apotek Rakyat bisa didirikan dengan syarat lebih ringan dari apotek biasa. Syaratnya memiliki sarana dan prasarana berupa komoditi, lemari obat, lingkungan yang terjaga kebersihannya. Apotek Rakyat, tidak boleh melakukan peracikan, mengutamakan obat generik, dilarang menjual obat-obatan narkotika dan psikotropika, dilarang menyerahkan obat dalam jumlah besar, serta memiliki apoteker sebagai penanggung jawab dan dapat dibantu oleh asisten apoteker. Selain itu, Apotek rakyat harus mendapat ijin dari kepala dinas kesehatan kabupaten/kota setempat. Untuk mendapat izin, tidak dipungut biaya dan tidak perlu modal kerja. BUMN Farmasi akan menyediakan obat secara konsinyasi, ujar Menkes.

Menurut Menkes, tujuan apotek rakyat adalah untuk : meningkatkan akses masyarakat terhadap obat yang murah dan berkualitas, memudahkan pengawasan obat, memberikan kesempatan bekerja kepada apoteker dan asisten apoteker, menggerakkan sektor ekonomi kerakyatan serta mengubah mind-set (cara berfikir) orang Indonesia agar mempunyai jiwa enterpreneurship/kewirausahaan.

Begitu apotek rakyat diluncurkan, saya mendapat surat banyak sekali. Sekarang saya umumkan bahwa ” tidak ada wajib kerja sarjana bagi apoteker ”. Dulu yang memberikan wajib kerja sarjana bagi apoteker adalah Menteri Kesehatan, sekarang UU wajib kerja sarjana telah dicabut, ujar Dr. Siti Fadilah Supari.

Banyak apoteker yang bekerja sebagai pegawai apotek yang didimiliki pemilik modal, sehingga apoteker hanya menjadi bawahan pemilik modal. Padahal apotek tidak akan jalan, tanpa ada apoteker. Masih lebih baik kalau bekerja di perguruan tinggi, karena derajatnya lebih tinggi, ujar Menkes.

Untuk menjamin ketersediaan, pemerataan dan keterjangkauan obat antara lain dilakukan pengaturan harga obat generik melalui Keputusan Menkes No. 521/Menkes/SK/IV/2007 sebagai revisi Kepmenkes No. 720/Menkes/SK/IX/2006. Revisi ini sebagai bukti bahwa Depkes tetap mempertimbangkan kondisi dunia usaha walau keterjangkauan rakyat terhadap obat adalah hal yang utama, kata Dr. Siti Fadilah Supari.

Menkes mengakui bahwa keterjangkauan terhadap harga obat adalah relatif, karena itu Depkes melaksanakan program Askeskin yakni program asuransi untuk rakyat miskin yang saat ini mencakup lebih dari70 juta jiwa dengan premi asuransi dibayarkan oleh pemerintah, sehingga masyarakat miskin pun terjamin aksesnya terhadap obat yang dibutuhkan.

Selain itu, untuk membantu masyarakat dalam rangka melakukan pengobatan sendiri (self medication) untuk keluhan-keluhan umum, telah diluncurkan Obat Rakyat Murah dan Berkualitas. Obat ini harganya Rp 1.000,- per strip-nya berisi 2-8 tablet, yang dapat dibeli di apotek, toko obat maupun warung-warung. Saat ini sudah tersedia 12 jenis obat ini, ujar Menkes.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-522 3002, 5296 0661 atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id.

Tentang ruhyana

Mencari untuk terus belajar dan belajar...
Pos ini dipublikasikan di Artikel Kesehatan. Tandai permalink.

12 Balasan ke Apoteker Kembangkan Apotek Rakyat

  1. Aldan berkata:

    Sebagai Apoteker saya menyambut baik keputusan Bu Menkes tsb. namun ada beberapa hal yang menurut saya kurang sepakat dan tidak simbang sehingga perlu menjadi perhatian bu menkes, yakni penerapan sistem Asuhan kefarmasian adlah merupakan bagian dari sistem pelayanan Kefarmasian bagi kelangsungan hidup pasien tentunya. olehnya itu konsep bahwa apoteker tidak wajib ada di apotek saya TOLAK MENTAH2. Apa guna kami dididik kalau tidak di pakai ? Lihat saja negara tetangga kita Malaysia dan Australia, konsep Pharmaceutical care telah diterapkan sebagai standart Nasional kesehatan mereka. sehingga kebutuhan akan tenaga Apoteker semakin meningkat. olehnya itu sebagai menteri kesehatan sebainya bertindak Adil dan Bijaksana dalam hal keputusan terhadap nasib apoteker indonesia. bukankah Apoteker juga masuk dalam UU Kesehatan sebagai Tenaga Kesehatan Non Medis ?. Untuk itu dalam setiap pengangkatan tenaga kesehatan PTT seimbangkanlah dengan tenaga medisnya sehingga masalah2 terkait Obat yang dihadapi oleh rakyat kecil dipuskesmas dapat teratasi dengan baik secara terprogram dan profesional.
    Saya harap juga kepada seluruh apoteker diseluruh indonesia janganlah mau diperdaya oleh PSA (pemilik Sarana Apotek) Yang hanya mancari keuntungan semata sehingga keberedaan anda sangat2 tidak dibutuhkan untuk hadir di Apotek tsb. Marilah kita bergandeng tangan dan saling merangkul untuk meningkatkan pelayanan kefarmasian melalui Metode Asuhan kefarmasian di Tempat kerja profesi kita masing2 Tentunta bukan lain dan bukan tidak adalah APOTEK tercinta.
    Terima Kasih

  2. ruhyana berkata:

    Sistem tarik ulur antara peraturan dan kebijakan sudah bukan rahasiah lagi di negara kita, peraturan di negara kita sudah cukup bagus, tetapi peraturan dibilang bagus dan memadai pada saat dibuat. Tetapi sesuai dengan kemajuan jaman dan teknologi sudah selayaknya untuk ditinjau kembali, sehingga aspirasi dari bawah dapat ditampung dan di akomodir untuk lebih memajukan negara kita terutama di bidang kesehatan. Apalagi sekarang ini Metoda Asuhan Kefarmasian sudah mulai di dengungkan. Semoga reformasi dan regulasi bidang kefarmasian akan berdampak pada rakyat kecil, harga obat-obatan akan lebih transparan dan terjangkau masyarakat lapisan paling bawah.
    Semoga !

  3. bifimera berkata:

    Beberapa hal untuk pertimbangan
    1. Penggunaan apoteker (dan bukan lagi asisten apoteker) tentunya akan meningkatkan biaya operasional toko obat, yang akan berimbas pada harga obat.
    2. Dengan semakin tingginya biaya operasional, maka akan lebih sedikit toko obat yang dibuka terlebih di daerah-daerah pelosok dengan jumlah penduduk yang sedikit. Apotek-apotek rakyat hanya akan lebih terkonsentrasi di daerah-daerah yang padat di mana secara bisnis masih memungkinkan pengembalian yang memadai.
    3. Ketersediaan tenaga apoteker di daerah-daerah masih belum memadai. Contohnya, universitas paling terkemuka di Sulawesi Utara baru membuka jurusan farmasi pada akhir 2007. Ini berarti para siswanya baru akan lulus tiga atau empat tahun mendatang.

  4. indri berkata:

    Sebenarnya permasalahan bukan hanya pada permodalan tetapi menurut saya itikad dari teman-teman apoteker sendiri yang juga membiarkan “profesi di jual murah” hanya sebagai nama untuk perizinan dan tidak pernah datang ke apotek juga membuat profesi apoteker menjadi “rendah”

  5. dh tambun berkata:

    softcopy kepmenkes No. 521/2007 ada ga? tolong dong di share

  6. Ferd berkata:

    saya paling alergi banget mendengar apotek rakyat, masak ada apotek rakyat segala. apotek rakyat IBARAT SINGA TANPA TARING, apoteker tidak bisa meracik, apotek rakyat hanya melegalkan apotek yang ada di pramuka, dan melegalkan toko obat menjual obat resep. Padahal sekarang buka apotek sudah sangat murah dan gak mahal-mahal. Tanggung gitu loh…., saya sendiri risih mendengarnya, apotek rakyat hanya untuk melegalkan sekelompok pihak tertentu saja, MENKES ITU JUGA ASBUN SAJA, banyak peraturannya yang aneh, katanya indo obat 1000, padahal masih banyak obat yang lebih murah dari indo obat 1000, dan indo obat 1000 gak laku, buang0buang duit, diapotek gak pernah ada kelihatan

  7. alphalima,Apt berkata:

    saya sangat setuju bu jadi seperti apoteker lain diberbagai negara maju……bisa lebih dekat dengan pasien dengan berpraktek langsung. dan berperan dalam keberhasilan terapi lanjuuut bu

  8. rinawati tarigan berkata:

    Apotek rakyat sebenarnya baik untuk mengembangkan apoteker di Indonesia, wajib tidaknya apoteker diapotek tergantung apotekernya sendiri.

  9. susi noviyanthi tampubolon berkata:

    untuk buka apotek rakyat skrag ini, kira2 dibutuhkan dana brp ya?(termasuk tmpt)

  10. martin berkata:

    repot kalau mentri nya kapitalis, peraturan yang udah ada di obrak abrik, kalau mau apa yang ada diperbaiki , buat apoteker dan PSA akur, kan yang buat mereka gak akur adanya DINKES/ BALAIPOM tidak tegas , juga harga obat yg dinegeri kita ini sangat fiktif dimana harga jual jadi permainan distributor dan dokter, juga Dinkes dan balai pom yang bagai harimau tak bertaring ketika berhadapan dengan obat palsu dan obat black market , lihat aja apotek takut jual viagra luar negeri, malah toko vitalitas boleh, hahahahahahahaha, apoteker juga jangan money oriented dong, juga PsA jangan asal berpikir bisnis , karna nita berpikir nyawa orang taruhannya, …………….inilah ketika sakit itu adalah pasar, maka rakyat kecil seperti kami yang susah

  11. martin berkata:

    muak akan segalahal yang ada , jadilah pengobat yang arif dong jangan cari uang melulu, dan jangan ada embel2 rakyat terus dipandang arif lihat judul artikelnya aja ber bertolak belakang seharusny apotek rakyat adalah harga rakyat dan untuik rakyat bukan kapitalis, dipikir dinkes/balai pom tidak dapat uang hahahahahaa, distributor ngasih elo berapasih ngeluarin peraturan aneh?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s