Menkes Lantik Santri Siaga di Ponpes Salaf Tegalrejo

syukuran.jpg
26 Jun 2007

Untuk mempercepat pembangunan kesehatan, Depkes telah menetapkan visi ” Masyarakat yang Mandiri Untuk Hidup Sehat ” dan misi ” Membuat Rakyat Sehat “. Untuk mencapai visi dan misi tersebut dilakukan melalui 4 strategi utama yaitu menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat, meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas, meningkatkan sistem surveilans, monitoring dan informasi kesehatan serta meningkatkan pembiayaan kesehatan.

Hal itu dikemukakan Menkes Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP (K), pada acara peletakan batu pertama pembangunan Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren) dan Pelantikan Santri Siaga di Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Salaf Tegalrejo, Magelang Jawa Tengah tanggal 23 Juni 2007.

Pada kesempatan tersebut, Menkes menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Pengurus API Ponpes Salafi Tegalrejo Magelang yang telah mempunyai inisiatif mengembangkan Poskestren dan membentuk Santri Siaga Mandiri. Kegiatan ini menggambarkan besarnya perhatian dan peran aktif para pengasuh dan masyarakat pondok dalam pembangunan kesehatan, ujar Siti Fadilah Supari.

Menkes menyatakan, strategi menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat didasarkan atas pemahaman dasar bahwa kesehatan masyarakat tergantung pada masyarakat itu sendiri. Ahli kesehatan, Blum menyatakan bahwa status kesehatan dipengaruhi faktor utama yaitu perilaku masyarakat yang sehat, lingkungan hidup yang sehat dan tersedianya pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau. Perilaku dan lingkungan yang sehat tergantung pada masyarakat, sedangkan pelayanan kesehatan merupakan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat melalui pengembangan upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat (UKBM), kata Menkes.

Pondok Pesantren yang sehat akan meningkatkan kualitas para santri penghuninya. Pondok pesantren yang sehat akan menjadi contoh dan panutan masyarakat di sekitarnya untuk hidup sehat. Sedangkan para kyai berperan sebagai sumber rujukan kehidupan berwawasan sehat. Para santri berperan sebagai inovator, motivator, activator dan implementator perilaku hidup bersih dan sehat serta pengembangan berbagai upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat. Pondok pesantren diharapkan menjadi penentu arah pengembangan umat Islam, yang merupakan sebagian besar masyarakat Indonesia, papar Menkes.

Penggerakan masyarakat melalui Poskestren yang merupakan wujud UKBM di lingkungan pondok pesantren mempunyai prinsip dari, oleh dan untuk warga pondok pesantren yang mengutamakan pelayanan promotif (peningkatan) dan preventif (pencegahan) tanpa mengabaikan aspek kuratif (pengobatan) dan rehabilitatif (pemulihan kesehatan) melalui binaan Puskesmas setempat. Pada prinsipnya pengembangan Poskestren adalah upaya masyarakat, karena itu Menkes mengharapkan dalam pengembangan Poskestren para pengasuh tidak terpaku pada bantuan pemerintah sebagaimana yang dicontohkan Ponpes Salaf ini, ujar Siti Fadilah Supari.

Menkes juga mengharapkan Ponpes tidak hanya memberdayakan masyarakat Pesantren, tetapi juga seluruh masyarakat desa melalui Desa Siaga. Desa Siaga adalah desa yang masyarakatnya memiliki kesiapan sumberdaya dan kemampuan mencegah dan mengatasi masalah kesehatan. Desa Siaga dapat terwujud melalui pengembangan Poskestren dan Poskesdes.

Pelayanan yang disediakan oleh Poskestren adalah pelayanan kesehatan yang meliputi promotif, preventif, rehabilitatif, dan kuratif pengobatan. Khusus untuk pelayanan kuratif dan beberapa pelayanan preventif tertentu seperti imunisasi dan pemeriksaan kesehatan dilaksanakan oleh petugas kesehatan.

Termasuk dalam upaya promotif antara lain konseling kesehatan, penyuluhan kesehatan, perlombaan di bidang kesehatan dan olah raga secara teratur. Sedangkan upaya preventif meliputi pemeriksaan berkala, penjaringan kesehatan santri, imunisasi, kebersihan diri dan kebersihan lingkungan. Upaya kuratif dan rehabilitatif meliputi pengobatan sederhana dan rujukan kasus.

Tempat penyelenggaraan Poskestren, sekurang-kurangnya dilengkapi dengan tempat pemeriksaan, tempat konsultasi (gizi, sanitasi dan lain-lain), serta tempat penyimpanan obat. Selain sarana tersebut Poskestren perlu dilengkapi dengan peralatan medis (sesuai jenis pelayanan), peralatan non medis ( sarana pencatatan, meja, kursi, lemari sesuai kebutuhan) serta obat-obatan ( jenis dan jumlah obat-obatan di Poskestren sesuai dengan petunjuk Kepala Puskesmas setempat).

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-522 3002, 5296 0661 atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id.

Tentang ruhyana

Mencari untuk terus belajar dan belajar...
Pos ini dipublikasikan di Artikel Kesehatan. Tandai permalink.

3 Balasan ke Menkes Lantik Santri Siaga di Ponpes Salaf Tegalrejo

  1. ABdullatif berkata:

    ALkhamdulillah saya bisa hadir di blog ini,

  2. ABdullatif berkata:

    kepada yang terhormat para santri di Tegal Rejo……
    salam dari saya, santri gelandagan…
    beri saya wejangan, saya sangat suka dengerin pengajiannya fast FM,
    kriwile9@yahoo.com

  3. Shirely Gaulding berkata:

    Awesome information once again! Thumbs up!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s